Kamis,
27/02/2014 – 17.00
Jakarta,
Kemdikbud -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammmad Nuh
menuturkan, mahasiswa penerima Bidikmisi bagaikan mutiara terpendam. Betapa
berharganya mutiara tersebut, sudah selayaknya mereka diangkat, agar kelak
dapat memutus mata rantai kemiskinan yang selama ini membelenggu keluarga
mereka. "Kalau memandang mereka, pandanglah dengan mata hati. Kita bisa
melihat betapa besar kemulyaan mereka. Mereka adalah mutiara terpendam yang harus
diangkat," ujar Mendikbud seperti dinukil di laman Kemdiknas.go.id saat
menyampaikan laporan dalam kegiatan "Silaturahim Nasional Bidikmisi
2014", di Jakarta, Kamis (27/2).
Mendikbud
juga menambahkan, para mutiara terpendam ini kelak akan memotong mata rantai
kemiskinan, mengangkat harkat dan martabat diri dan keluarganya, serta akhirnya
nanti bersama-sama mengibarkan merah putih, membawa nama Indonesia. "Dan
saat itulah kebangkitan kaum duafa terjadi," ucap Mendikbud, seraya
disambut dengan tepuk tangan peserta.
Ia
menjelaskan, Bidikmisi merupakan salah satu program yang saat itu dirumuskan
dalam program 100 hari Kementerian. Bidikmisi membebaskan biaya kuliah
mahasiswa hingga lulus ditambah biaya hidup sehari-hari. Pada awalnya Bidikmisi
diatur dalam Peraturan Menteri, yang kemudian ditingkatkan menjadi Peraturan
Pemerintah. "Lalu pada 2012, Bidikmisi dikuatkan lagi melalui
Undang-undang Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi," jelas
Mendikbud.
Salah
satu pasal dalam Undang-undang tersebut mengamatkan bahwa setiap perguruan
tinggi negeri sekurang-kurangnya wajib mengalokasikan 20 persen bagi mereka
yang berasal dari keluarga tidak mampu, dan mereka yang berasal dari wilayah
terpencil, terluar, dan tertinggal (3T).
Mendikbud
menambahkan, Bidikmisi tidak saja menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi
telah menjadi tanggung jawab negara. "Kita ingin memastikan, tidak boleh
mereka tidak kuliah karena tidak ada biaya," ungkapnya. (Ramlan Setiawan)
Sumber
: kemdiknas.go.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar