Jumat, 10 Januari 2014

PejuangDiPerantauan #EdisiPulkam



Sumpah, awalnya gue galau banget antara pulang kampoeng atau engga. Soalnya jatah liburan hanya sekitar 2 mingguan sebelum UAS dan ditambah lagi teman gue yang sama dari kota Sukabumi gak jadi pulang kampoeng barengan ma gue *haha xD
Tapi gue mikir lagi, kalo gue ga pulang berarti gue udah buang-buang duit meski ga gede yakni beli tiket kereta api :/ . Galau gue semakin memuncak ketika sudah mendekati hari H, yakni 20 desember. Haha rasanya gue pengen teriak sekencangnya brooo tapi gue tahan karena kan gue malu :v
Karena memang gue belum pulang semenjak PPA (ospek) dan gue juga sudah sangat rindu sekali sama keluarga gue. So, gue putuskan tetep balik

Ketika Harapan menjadi Kenyataan


Pagi itu, tanggal 15 Desember 2013 gue punya agenda untuk menghadiri Closing Kuliah Ahad Pagi di Auditorium kampus. Setelah gue selesai beresin pekerjaan anak kos. Gue ajak temen sekamar gue untuk ikut acara itu. dan Alhamdulillah ternyata dia mau juga. Meski sebenarnya ada rasa sedikit malu juga karena peserta yang hadir adalah mahasiswa pengambil mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI), tapi ya gue tebelin sementara muka gue. Gue berbaur ditengah ribuan kerumuman mahasiswa. Widddihh..haha xD
Waktu itu gue seperti seorang penyusup untuk mencari informasi yang akurat :D *ceileh, bahasa luh alay bangettt xD

Inilah yang terbaik menurut NYA


Ketika dinyatakan tidak lolos di U**  dan lolos di Universitas Negeri Semarang, awalnya sempet  sedih karena pasti bakal jarang pulang *haha :3
Akan tetapi, setelah aku renungkan dan pikirkan dengan sangat bijak dan mempertimbangkan berbagai macam aspek, ternyata memang disinilah yang terbaik menurut NYA. Karena :

Berawal dari sebuah “kecemburuan”



Waktu itu, ketika temen se-kota gue yang sama-sama kuliah disini mengirimkan sebuah pesan ke gue yang menyatakan bahwa dia juara ketiga di lomba A, gue langsung cemburu. Gue ucapin selamat kepadanya karena telah berhasil menunjukkan bahwa putra daerah Sukabumi memang tidak bisa diremehkan.
Kecemburuan gue semakin bertambah disaat acara penganugerahan para juara. Sumpah, gue nyesek banget. Gue kalah dan belum berhasil menyabet piala di ajang perlombaan yang berbeda dalam acara yang sama. Gue lihat mereka, para pemenang lomba sangat bahagia sekali mendapatkan tropi dan beberapa hadiah lain. Sejak saat itu, gue langsung ngomong sama diri gue sendiri “suatu saat, gue juga bisa seperti mereka.” Aamiin.