Setiap orang pasti mempunyai sebuah
mimpi. Mulai dari mimpi dalam lingkup kecil hingga yang tidak terhingga
sekalipun. Bahkan, ada sebagian orang
yang mempercayai bahwa mimpi itu sendiri memberikan ruh kepada setiap jiwa
untuk terus berjuang menggapainya, meski ditempa berbagai persoalan yang rumit
membelit. Biasanya, faktor yang sering menjadi permasalahan sebagian besar
masyarakat adalah karena keterbatasan ekonomi.
Ada yang beranggapan bahwasanya mimpi itu hanya bagi orang yang berada. Namun, sungguh ironis rasanya jikalau ada orang yang langsung menyetujui dan mendukung statement tadi. Memang, untuk sebagian orang yang berada dalam kategori cukup, uang bukanlah hambatan yang berarti. Bagi mereka, itu seperti melempar batu atau apapun itu disembarang tempat ; mudah, enteng, dan sangat tidak terbebani. Tapi, bagi kalangan masyarakat golongan menengah kebawah. Ini adalah hal yang sangat rumit.
Ada yang beranggapan bahwasanya mimpi itu hanya bagi orang yang berada. Namun, sungguh ironis rasanya jikalau ada orang yang langsung menyetujui dan mendukung statement tadi. Memang, untuk sebagian orang yang berada dalam kategori cukup, uang bukanlah hambatan yang berarti. Bagi mereka, itu seperti melempar batu atau apapun itu disembarang tempat ; mudah, enteng, dan sangat tidak terbebani. Tapi, bagi kalangan masyarakat golongan menengah kebawah. Ini adalah hal yang sangat rumit.
Hal itulah yang terjadi pada diriku.
Aku terlahir dari keluarga yang terbilang kurang mampu. Bisa bersekolah ke
jenjang yang lebih tinggi merupakan sesuatu yang langka yang mungkin akan
terjadi pada diriku. Aku mempunyai mimpi ingin berkuliah di suatu Perguruan
Tinggi dengan jalur beasiswa. Namun, terkadang aku ragu. Aku pesimis jika
mengingat keadaan keluargaku. Aku takut untuk melangkah dalam menggapai
impianku. Aku dirundung kegelisahan yang mendalam jika berbicara masalah hal
itu.
Keraguan dan ketakutan itulah yang
selalu menghantui dan hinggap diingatanku. Aku begitu seperti diperbudak oleh
kedua rasa itu. Aku bahkan bingung akan kemanakah aku berlabuh setelah lulus
SMA. Kerja ? adakah perusahan atau pabrik yang mau menerimaku? Atau bahkan aku
harus menjadi seorang pengangguran?
“heyyyy.....jangan
melamun saja.!!!”
Lamunanku
terbuyar ketika temanku Gufron menghampiri dan mengagetkanku. Aku mencoba
tenang. Namun, dia sepertinya penasaran ingin mengetahui hal apa yang sedang kupikirkan.
Lantas aku berceritalah padanya.
Singkat cerita, dia mulai memahami
persoalan yang sedang aku alami. Dia berusaha memberikan pengarahan dan sedikit
nasihat buatku. Aku terenyuh dengan perkataan yang sempat terlontar dari
mulutnya.
“orang
lain boleh meragukan impian dan kemungkinanmu, tapi engkau-tidak! Apapun yang
terjadi, majulah, majukanlah dirimu. Mundur bukanlah pilihanmu. Katakanlah, Aku
tidak dirancang untuk mundur.”
Emosiku
memuncak. Aku hampir meronta seperti orang kesurupan karena aku masih belum
bisa menerima setiap ejekan dan hinaan yang sejatinya menyudutkanku,
seolah-olah aku tidak pantas untuk bermimpi besar. Aku selalu terngiang
perkataan yang sangat menyesakkan dadaku. Mungkin terdengar lebay, tapi ini
memang kenyataan. Aku memiliki kesensitivan yang tinggi.
Sekali lagi, dia membalas keluhanku
dengan perkataannya yang sangat menyayat dan merangsang emosi memuncak.
“sahabatku,
mereka boleh merendahkanmu, menganggapmu tidak berharaga atau tidak ada
gunanya. Tapi ingatlah, kedua orangtuamu sangatlah bangga mempunyai anak
sepertimu. Untuk apa kamu selalu memikirkan mereka yang selalu merendahkanmu.
Jadikanlah setiap perkataan yang terlontar dari mulut mereka itu sebagai motivasi
bagimu untuk maju. Kamu masih mempunyai orang yang sangat menyayangi dan bangga
kepadamu. Maka, sibukkanlah dirimu untuk memikirkan langkah dalam menggapai
semua impianmu. Berjuanglah! Kelak, jika kamu bisa menggapai apa yang kamu
impikan. Mereka, orang yang selalu merendahkanmu akan bungkam. Malah, mereka
akan malu dan balik menghormatimu. Ayo, aku yakin kamu pasti bisa.”
Kali
ini, hatiku mulai terbuka. Aku mencoba memahami petuah yang diberikan sahabatku
itu. Aku akan mencernanya secara mendalam.
Ketakutan dan keraguanku pun
perlahan hilang. Aku mulai percaya diri dan akan melangkah berani mewujudkan
mimpiku. Aku mencoba daftar beasiswa Bidik Misi di seleksi PTN. Namun apa yang
terjadi? Dari kedua test yang kuikuti,SNMPTN dan SBMPTN, keduanya menyatakan
bahwa aku gagal. Aku sempat putus asa dan stress menerimanya.
Lagi, sahabatku memberikan suntikan
dan suplemen semangat kepadaku. Dia berkata bahwa aku harus sabar dan berlapang
dada. Ini merupakan ujian yang diberikan oleh Allah untuk menguji mutu keimanan
hamba-NYA. Jika orang bisa melewatinya, maka ia akan naik kelas. Ingatlah,
serapih apapun rencanya kita, semuanya tidak akan berjalan dengan mulus. Dan yakinilah,
hanya rencana-NYA lah yang paling indah. Bangkitlah. Ayo, berjuang kembali.”
Betapa sangat beruntungnya aku
mempunyai teman seperti dia, yang selalu memberikan motivasi dan semangat
dikala aku lelah akan ujian yang menimpaku. Juga, aku sangat bangga kepadanya,
karena dia begitu baik dan paham banyak tentang agama. Sungguh, betapa indahnya
ukhuwah persaudaraan ini.
Aku kembali membangunkan semangatku
dengan pupuk suplement motivasi. Aku
yakin, Allah punya rencana dan kejutan yang sangat indah dibalik kegagalanku.
Aku mencoba mengikuti jalur terakhir di Perguruan Tinggi yang ada di Jawa
Tengah. Berbagai masalah dan hambatan tak hentinya mengkerubutiku. Tapi, aku
tetap terfokus. Aku akan terus maju demi impianku. Aku akan berjuang till the limited of mine. Selebihnya,
aku tawakalkan kepada Allah Sang Maha Berkehendak akan segala sesuatu.
Dan ternyata benar, hanya skenario
dan rencan-NYA lah yang sangat indah. Alhamdulillah, akhirnya aku bisa diterima
di Perguruan Tinggi dengan beasiswa Bidik Misi. Sungguh nyatalah bahwa
janji-NYA itu pasti. Semua akan indah pada waktu-NYA. Dan betapa pentingnya
ukhuwah itu J
Sekian....
Semoga
menginspirasi. Terima kasih J
MUTIARA
KATA :
Terkadang, ketika mengalami kegagalan. Ada orang yang
langsung menjudge bahwa Tuhan itu
tidak adil. Padahal, jika berfikir secara jernih. Kita akan tersadarkan dan
intropeksi diri. Sejatinya, manusia hanya bisa berencana, berusaha, dan berdoa.
Yang Maha menentukan akan hasilnya hanyalah Allah SWT. Maka, lakukanlah dengan
sungguh-sungguh dalam menggapai apapun. Karena mereka yang
bersungguh-sungguhlah yang akan mendapatkan hasil. Jangan lupa dibarengi dengan
kesabaran dan kelapangan jika mengalami kegagalan dan kesulitan. Mereka yang
bisa bersabar dan melewati ujian-NYA, maka akan naik kelas dan beruntung. Dan
yang terpenting, tetaplah berjalan di jalan-NYA, jangan sesekali melakukan hal
yang memang dilarang oleh-NYA. Terus berdoa dan tawakalah pada-NYA. Niscaya
kamu akan sampai dan bisa menggapai apa yang menjadi impianmu. Semangat,
allahu’akbar!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar