Sabtu, 09 November 2013

akhirnya, kugapai mimpiku.

            Setiap orang pasti mempunyai sebuah mimpi. Mulai dari mimpi dalam lingkup kecil hingga yang tidak terhingga sekalipun. Bahkan,  ada sebagian orang yang mempercayai bahwa mimpi itu sendiri memberikan ruh kepada setiap jiwa untuk terus berjuang menggapainya, meski ditempa berbagai persoalan yang rumit membelit. Biasanya, faktor yang sering menjadi permasalahan sebagian besar masyarakat adalah karena keterbatasan ekonomi.
Ada  yang beranggapan bahwasanya mimpi itu hanya bagi orang yang berada. Namun, sungguh ironis rasanya jikalau ada orang yang langsung menyetujui dan mendukung statement tadi. Memang, untuk  sebagian orang yang berada dalam kategori cukup, uang bukanlah hambatan yang berarti. Bagi mereka, itu seperti melempar batu atau apapun itu disembarang tempat ; mudah, enteng, dan sangat tidak terbebani. Tapi, bagi kalangan  masyarakat golongan menengah kebawah. Ini adalah hal yang sangat rumit.
            Hal itulah yang terjadi pada diriku. Aku terlahir dari keluarga yang terbilang kurang mampu. Bisa bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi merupakan sesuatu yang langka yang mungkin akan terjadi pada diriku. Aku mempunyai mimpi ingin berkuliah di suatu Perguruan Tinggi dengan jalur beasiswa. Namun, terkadang aku ragu. Aku pesimis jika mengingat keadaan keluargaku. Aku takut untuk melangkah dalam menggapai impianku. Aku dirundung kegelisahan yang mendalam jika berbicara masalah hal itu.
            Keraguan dan ketakutan itulah yang selalu menghantui dan hinggap diingatanku. Aku begitu seperti diperbudak oleh kedua rasa itu. Aku bahkan bingung akan kemanakah aku berlabuh setelah lulus SMA. Kerja ? adakah perusahan atau pabrik yang mau menerimaku? Atau bahkan aku harus menjadi seorang pengangguran?
“heyyyy.....jangan melamun saja.!!!”
Lamunanku terbuyar ketika temanku Gufron menghampiri dan mengagetkanku. Aku mencoba tenang. Namun, dia sepertinya penasaran ingin mengetahui hal apa yang sedang kupikirkan. Lantas aku berceritalah padanya.
            Singkat cerita, dia mulai memahami persoalan yang sedang aku alami. Dia berusaha memberikan pengarahan dan sedikit nasihat buatku. Aku terenyuh dengan perkataan yang sempat terlontar dari mulutnya.
“orang lain boleh meragukan impian dan kemungkinanmu, tapi engkau-tidak! Apapun yang terjadi, majulah, majukanlah dirimu. Mundur bukanlah pilihanmu. Katakanlah, Aku tidak dirancang untuk mundur.”
Emosiku memuncak. Aku hampir meronta seperti orang kesurupan karena aku masih belum bisa menerima setiap ejekan dan hinaan yang sejatinya menyudutkanku, seolah-olah aku tidak pantas untuk bermimpi besar. Aku selalu terngiang perkataan yang sangat menyesakkan dadaku. Mungkin terdengar lebay, tapi ini memang kenyataan. Aku memiliki kesensitivan yang tinggi.
            Sekali lagi, dia membalas keluhanku dengan perkataannya yang sangat menyayat dan merangsang emosi memuncak.
“sahabatku, mereka boleh merendahkanmu, menganggapmu tidak berharaga atau tidak ada gunanya. Tapi ingatlah, kedua orangtuamu sangatlah bangga mempunyai anak sepertimu. Untuk apa kamu selalu memikirkan mereka yang selalu merendahkanmu. Jadikanlah setiap perkataan yang terlontar dari mulut mereka itu sebagai motivasi bagimu untuk maju. Kamu masih mempunyai orang yang sangat menyayangi dan bangga kepadamu. Maka, sibukkanlah dirimu untuk memikirkan langkah dalam menggapai semua impianmu. Berjuanglah! Kelak, jika kamu bisa menggapai apa yang kamu impikan. Mereka, orang yang selalu merendahkanmu akan bungkam. Malah, mereka akan malu dan balik menghormatimu. Ayo, aku yakin kamu pasti bisa.”
Kali ini, hatiku mulai terbuka. Aku mencoba memahami petuah yang diberikan sahabatku itu. Aku akan mencernanya secara mendalam.
            Ketakutan dan keraguanku pun perlahan hilang. Aku mulai percaya diri dan akan melangkah berani mewujudkan mimpiku. Aku mencoba daftar beasiswa Bidik Misi di seleksi PTN. Namun apa yang terjadi? Dari kedua test yang kuikuti,SNMPTN dan SBMPTN, keduanya menyatakan bahwa aku gagal. Aku sempat putus asa dan stress menerimanya.
            Lagi, sahabatku memberikan suntikan dan suplemen semangat kepadaku. Dia berkata bahwa aku harus sabar dan berlapang dada. Ini merupakan ujian yang diberikan oleh Allah untuk menguji mutu keimanan hamba-NYA. Jika orang bisa melewatinya, maka ia akan naik kelas. Ingatlah, serapih apapun rencanya kita, semuanya tidak akan berjalan dengan mulus. Dan yakinilah, hanya rencana-NYA lah yang paling indah. Bangkitlah. Ayo, berjuang kembali.”
            Betapa sangat beruntungnya aku mempunyai teman seperti dia, yang selalu memberikan motivasi dan semangat dikala aku lelah akan ujian yang menimpaku. Juga, aku sangat bangga kepadanya, karena dia begitu baik dan paham banyak tentang agama. Sungguh, betapa indahnya ukhuwah persaudaraan ini.
            Aku kembali membangunkan semangatku dengan pupuk suplement motivasi. Aku yakin, Allah punya rencana dan kejutan yang sangat indah dibalik kegagalanku. Aku mencoba mengikuti jalur terakhir di Perguruan Tinggi yang ada di Jawa Tengah. Berbagai masalah dan hambatan tak hentinya mengkerubutiku. Tapi, aku tetap terfokus. Aku akan terus maju demi impianku. Aku akan berjuang till the limited of mine. Selebihnya, aku tawakalkan kepada Allah Sang Maha Berkehendak akan segala sesuatu.
            Dan ternyata benar, hanya skenario dan rencan-NYA lah yang sangat indah. Alhamdulillah, akhirnya aku bisa diterima di Perguruan Tinggi dengan beasiswa Bidik Misi. Sungguh nyatalah bahwa janji-NYA itu pasti. Semua akan indah pada waktu-NYA. Dan betapa pentingnya ukhuwah itu J


Sekian....
Semoga menginspirasi. Terima kasih J

MUTIARA KATA :

Terkadang, ketika mengalami kegagalan. Ada orang yang langsung menjudge bahwa Tuhan itu tidak adil. Padahal, jika berfikir secara jernih. Kita akan tersadarkan dan intropeksi diri. Sejatinya, manusia hanya bisa berencana, berusaha, dan berdoa. Yang Maha menentukan akan hasilnya hanyalah Allah SWT. Maka, lakukanlah dengan sungguh-sungguh dalam menggapai apapun. Karena mereka yang bersungguh-sungguhlah yang akan mendapatkan hasil. Jangan lupa dibarengi dengan kesabaran dan kelapangan jika mengalami kegagalan dan kesulitan. Mereka yang bisa bersabar dan melewati ujian-NYA, maka akan naik kelas dan beruntung. Dan yang terpenting, tetaplah berjalan di jalan-NYA, jangan sesekali melakukan hal yang memang dilarang oleh-NYA. Terus berdoa dan tawakalah pada-NYA. Niscaya kamu akan sampai dan bisa menggapai apa yang menjadi impianmu. Semangat, allahu’akbar!!!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar